Memberdayakan Pendidikan Seni Sunda PDF Cetak E-mail
Artikel
Kamis, 29 Oktober 2009 00:00
Oleh Djasepudin

Rasa cinta dalam memelihara seni, sastra, dan budaya Sunda bisa diungkapkan dengan beragam cara. Untuk para seniman, tentu cara yang paling merenah adalah berkesinambungan dalam mencipta dan menampilkan karya kreatif mereka di tengah masyarakat.

Meski belum seratus persen optimal, upaya mengelola seni budaya Sunda hingga ayeuna tetap dilaksanakan. Dalam hajat Agustusan atau perkawinan, seni budaya Sunda masih bisa dijumpai. Para intelektual pun masih bertahan dalam menggali jati diri nilai-nilai adiluhung yang terkandung dalam pelbagai kesenian.

Adapun pemerintah, meski ala kadarnya, diakui atau tidak tetap ilubiung dalam menghidupkan seni budaya Sunda. Muhun, seperti kerja sama dengan beberapa sanggar kesenian guna mengadakan helaran, pameran, atau misi kesenian ke mancanegara.

Yang membuat bangga, di luar negeri, menurut seniman Sunda Nano S, kiwari seni Sunda dijadikan salah satu mata kuliah pilihan untuk para mahasiswa di jurusan nonkesenian. Hal ini menandakan bahwa kesenian macam apa pun dan dari mana pun memang bersifat universal dan bermakna bagi siapa pun. Seni jeung budaya ciciren bangsa Ciri nu mekar moal pahili Kasenian kabudayaan Jasana sanes lumayan Lingkungan sekolah.

Memang dunia pendidikan merupakan tempat yang paling tepat guna mengenalkan seni budaya Sunda kepada para nonoman. Oleh karena itu, kita patut berterima kasih kepada para pahlawan kesenian di lingkungan sekolah yang hingga sekarang terus ngahirup-huripkeun seni budaya Sunda.

Muhun, seperti yang dilakukan siswa SMAN 3 Bandung yang nanjung berkat mengusung seni angklung. Jangan dikata lagi aktivitas seni di SMKI, STSI, Lises Unpad, LSS ITB, Lisma Unpas, atau kelompok Sonagar UPI yang saban hari terus menggauli goong, bonang, saron, calung, atau angklung.

Khusus untuk Jurusan Sastra Sunda Unpad, saya sangat berharap agar mata kuliah pilihan Kesenian Sunda, yang terdiri teater, tari, dan karawitan Sunda, yang mulai dibuka tahun 2003, terus dijadikan salah satu bidang ilmu yang wajib dihadapi mahasiswa.

Pendidikan seni Sunda bakal lebih baik jika masyarakat pun tidak pernah bosan mengenalkan kesenian Sunda kepada generasi kiwari. Sebab, dangiang seni Sunda bakal terasa manfaatnya jika kesenian tersebut diterima masyarakat.

Muhun, seperti yang dilakukan Sanggar Motekar di Jatinangor, (Sumedang), LS Komara Sunda di Cibinong (Bogor), atau ratusan kelompok kesenian Sunda lain di wilayah Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, serta DI Yogyakarta.

Agar urang Sunda tidak cupet alias tidak memeluk teguh fanatisme sempit, yang konon katanya seni Sunda teh seni paling hebat, meski tidak diketahui di mana keunggulan seni Sunda dibandingkan dengan kesenian lain, bakal lebih baik jika pencinta Sunda bersifat jembar alias terbuka.

Enya, selain mempelajari seni budaya peninggalan karuhun, akan lebih baik kita pun mempelajari seni budaya bangsa asing agar kita jembar panalar, terbuka pada yang berbeda.

Sebab, kesenian pantun Sunda, yang konon disebut kesenian asli Sunda, menurut ahli tari Sunda Enoch Atmadibrata, ternyata di Jepang pun ada yang hampir serupa, yaitu kesenian yoruri.

"Diarulik" asing

Dengan kemajuan zaman, geuning sekarang seni Sunda pun diarulik atau dipelajari oleh mahasiswa asing jurusan nonkesenian di dalam dan luar negeri. Berkaca pada hal itu, apa salahnya mahasiswa kita di jurusan fisika, biologi, statistik, farmasi, sosiologi, antropologi, atau jurusan lain di Unpad, Unpas, Unpar, ITB, IPB, UPI, Itenas, atau UIN diberi pilihan mata kuliah kesenian asing, seperti samba, tanggo, salsa, jazz, atau kesenian dari bangsa asing lain.

Apakah bisa terlaksana? Untuk sekarang, rasanya kawas ngatap?l bentang ku pak?l, hal yang mustahil. Sebab, di perguruan tinggi yang menjual nama Sunda, Parahyangan, atau Bandung dan Jawa Barat, mata kuliah kesenian Sunda hanya dijadikan pelengkap. Nyatanya, kesenian Sunda hanya hidup karena kekreatifan mahasiswa di unit-unit kesenian. Meski begitu, angan-angan ke arah itu lebih baik dirintis sejak sekarang. Hal itu bisa menjadi salah satu cara guna memanjangkan kehidupan kesenian melalui pewarisan budaya kepada para nonoman. Muhun, seperti untaian kawih yang sering dihaleuangkeun para seniman Sunda, termasuk kelompok seni dari Bandung yang telah melanglang buana, Sambasunda: Sirung anu renung nu subur ngagimbung Pupuk sina mekar motekar sumebar Pikeun neruskeun garapan Ngamumule seni kaagungan .

Djasepudin Guru SMA YPHB Kota Bogor

Kompas, Sabtu, 24 Oktober 2009


AddThis
 

Pentingnya Undang-Undang Penanganan Konflik Sosial

Misi mewujudkan Indonesia Aman dan Damai didasarkan pada permasalahan bahwa Indonesia masih rawan dengan konflik. Konflik komunal dengan kekerasan (Ko...

Selasa, 6 Maret 2012

Esensi Perubahan Undang-Undang Peradilan Anak

Oleh: Tim Adang Daradjatun Dalam Konvensi PBB tentang perlindungan Hak-Hak Anak  (Convention on the Rights of the Child /CRC) diatur tentang bant...

Jumat, 17 Februari 2012

Pendekatan Holistik RUU Keimigrasian

Arya Sandhiyudha As Master dalam bidang Strategic Studies dan penerima Certificate in Terrorism Studies dari S. Rajaratnam School of Internatio...

Kamis, 22 Juli 2010

next
prev