Optimisme Generasi Muda PDF Cetak E-mail
Artikel
Rabu, 28 Oktober 2009 00:00
Oleh Azyumardi Azra

Hari-hari ini, seputar peringatan 81 tahun Sumpah Pemuda, banyak kalangan generasi lebih senior gelisah. Kegelisahan itu tecermin dari berbagai konvensi, seminar, dan diskusi yang kebetulan saya terlibat sebagai narasumber sepanjang pekan lalu dan pekan terakhir Oktober ini. Temanya bisa beragam, sejak masalah jati diri pemuda dan bangsa; solidaritas dan kesetiakawanan sosial; sampai kepada pendidikan untuk membangkitkan kembali nasionalisme kaum muda. Meski kelihatan berbeda, semangat yang terkandung di dalamnya hampir sama; kecemasan terhadap generasi muda yang dipersepsikan kian sulit menggapai masa depan lebih baik, dan sekaligus juga tidak memiliki karakter, jati diri, etos kebangsaan, sehingga dapat mempengaruhi masa depan bangsa dan negara.

Dalam berbagai forum itu, banyak narasumber berbicara tentang sisi gelap kehidupan generasi muda sekarang. Mulai dari pendidikan yang mereka pandang masih jauh tertinggal daripada negara-negara lain; atau karena generasi mudanya sendiri mereka pandang cenderung malas yang membuat mereka kalah bersaing dengan generasi muda bangsa-bangsa lain; sampai pada anak-anak muda yang menurut mereka lebih tertarik pada budaya global daripada budaya lokal dan nasional mereka sendiri.

Kecemasan dan kekhawatiran tersebut, hemat saya, dalam segi-segi tertentu mencerminkan tidak hanya kesenjangan nilai di antara generasi lebih tua dengan generasi muda, tetapi sekaligus juga perbedaan persepsi masing-masing tentang realitas masa kini dan masa mendatang. Generasi lebih tua terbentuk lewat pengalaman yang berbeda, sesuai realitas yang ada pada masanya; sementara generasi muda kita sekarang ini hidup dalam lingkungan lokal, nasional dan internasional yang sangat berbeda. Karena itu, wajarlah jika generasi tua yang telah mapan dengan pengalaman dan nilainya sendiri memiliki kecemasan kepada generasi muda yang mempunyai nilainya dan persepsinya sendiri--yang tentu saja terbentuk di tengah dunia yang sudah dan terus dengan cepat berubah.

Di tengah kecemasan generasi tua yang lebih cenderung melihat ''sisi gelap'' (dark sides) generasi muda itu, saya sendiri sejak lama lebih memiliki optimisme terhadap generasi muda bangsa. Banyak sisi positif generasi muda yang perlu mendapat apresiasi generasi lebih tua. Meski kita masih mengeluh tentang mutu pendidikan kita yang belum juga sesuai harapan, masa sekarang ini adalah masa di mana anak-anak muda kita semakin terdidik berkat pendidikan yang semakin merata tersedia.

Optimisme juga ditemukan Harian Kompas (26 Oktober 2009) dalam jajak pendapat dalam rangka peringatan 81 tahun Sumpah Pemuda. Jajak pendapat yang dilaksanakan di 10 kota besar Indonesia menemukan bahwa generasi muda Indonesia sekarang ini sangat optimistis menyongsong dan sekaligus menghadapi tantangan masa depan mereka. Sekitar dua per tiga anak-anak muda berusia antara 16 dan 30 tahun berani memastikan bahwa kehidupan mereka nanti jauh lebih baik secara sosial ekonomis dibandingkan generasi muda 20 tahunan silam. Mereka memandang memiliki kesempatan lebih baik mendapatkan pendidikan yang juga lebih baik untuk kemudian mendapat penghasilan lebih besar, mencapai kehidupan lebih menyenangkan, menikmati kemudahan memperoleh hal-hal esensial dalam kehidupan serta turut serta dalam mendorong perubahan sosial.

Salah satu sumber optimisme itu adalah semakin terbukanya berbagai akses bagi mereka untuk meningkatkan kualitas diri--tidak hanya melalui pendidikan formal yang mereka peroleh dari sekolah atau perguruan tinggi, tetapi juga sumber-sumber belajar lainnya. Dalam hal ini, yang paling penting adalah kemajuan telekomunikasi dan informasi, yang memungkinkan mereka mengakses ilmu dan informasi lainnya bahkan secara instan.

Bila 20 tahun lalu, guru dan dosen hampir menjadi satu-satunya sumber belajar, generasi muda sekarang bahkan mendapatkan ilmu dan informasi dari beragam sumber yang tersedia dalam jaringan dunia maya.

Sebab itu, generasi lebih tua--termasuk guru dan dosen--kini sama sekali tidak boleh meremehkan anak-anak muda; seolah-olah anak-anak muda tidak tahu apa-apa. Boleh jadi di kelas mereka lebih banyak diam; tetapi sikap seperti ini sangat mungkin karena tidak mau dianggap guru atau dosen sebagai murid atau mahasiswa yang kurang sopan. Di balik itu, sangat boleh jadi mereka telah lebih mengetahui apa yang disampaikan guru dan dosen mereka, karena lebih giat mengakses internet, misalnya. Tetapi, kegemaran anak-anak muda kita sekarang mengakses internet selama berjam-jam bahkan juga menimbulkan kecemasan kalangan orang tua dan para pendidik, karena jangan-jangan anak-anak muda ini mengakses situs-situs yang menyesatkan.

Berkat kesempatan lebih besar mengakses sumber-sumber ilmu dan informasi, generasi muda sekarang cenderung semakin kosmopolitan dalam pandangan, persepsi, dan tingkah lakunya.

Pada saat yang sama mereka seolah kian tercerabut dari akar-akar lokal dan nasionalnya; bahkan banyak di antara mereka tidak lagi dapat menyebut kelima Pancasila secara benar.

Lagi-lagi, hemat saya tidak ada yang perlu dikhawatirkan benar dengan gejala-gejala seperti ini. Anak-anak muda kita, bagaimanapun masih dalam proses pengembangan diri. Karena itu, kian besar kesempatan bagi mereka mendapatkan akses-akses ilmu dan informasi untuk meningkatkan kualitas diri, kian baik pulalah sesungguhnya peluang mereka dalam menyongsong dan menghadapi tantangan hari ini dan masa depan. Di sinilah kita sekali lagi boleh optimistis dengan masa depan mereka yang lebih baik.

Republika, 28 Oktober 2009

 


AddThis
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Masukkan Kode Anti-Spam yang ada pada Gambar di Atas Pada Kolom Kosong Di Sampingnya

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Perspektif

Pentingnya Undang-Undang Penanganan Konflik Sosial

Selasa, 6 Maret 2012

Misi mewujudkan Indonesia Aman dan Damai didasarkan pada permasalahan bahwa Indonesia masih rawan dengan konflik. Konflik komunal dengan kekerasan (Konflik Sosial) yang selanjutnya disingkat Konflik, merupakan fenomena yang menandai perjalanan ...

Esensi Perubahan Undang-Undang Peradilan Anak

Jumat, 17 Februari 2012

Oleh: Tim Adang Daradjatun Dalam Konvensi PBB tentang perlindungan Hak-Hak Anak  (Convention on the Rights of the Child /CRC) diatur tentang bantuan hukum, prosedur-prosedur, kewenangan dan ...

Pendekatan Holistik RUU Keimigrasian

Kamis, 22 Juli 2010

Arya Sandhiyudha As Master dalam bidang Strategic Studies dan penerima Certificate in Terrorism Studies dari S. Rajaratnam School of International Studies   Dewan...

Oprah, Akhir Sebuah Era?

Senin, 23 November 2009

News image

By Kevin ConollyKetika kebanyakan perusahaan Amerika mengumumkan rencana bisnis yang baru, biasanya pengumuman itu hanya disampaikan lewat sebuah pernyataan di bursa Wall Street atau dalam pertemuan dengan beberapa orang analis ...

Ubi Cilembu Potensi Pangan Lokal yang Populer di Pasar Internasional

Minggu, 22 November 2009

News image

Ubi jalar dikenal dengan nama ketela rambat, huwi boled (Sunda), tela rambat (Jawa), sweetpotato (Inggris), dan shoyo (Jepang) merupakan sumber karbohidrat yang cukup penting dalam sistem ketahanan pangan ki...

Kiamat "2012" (Hanya) di Film

Senin, 16 November 2009

News image

Kiamat itu sudah dekat? Apa jadinya bila bumi yang selama ini kita pijak tiba-tiba amblas dan hilang tertelan air laut? Mulai dari rumor sampai data-data ilmiah sert...

Budaya Air di Sunda

Sabtu, 14 November 2009

Oleh Jakob Sumardjo ...

Tentang Gempa di Masa Islam

Rabu, 11 November 2009

News image

Arsitek-arsitek di masa Islam, juga telah membuat bangunan-bangunan tahan gempa.Fenomena alam berupa gempa bumi, sejak awal menjadi kajian ilmuwan Muslim. Al-Kindi, misalnya, yang merupakan ahli matematika, fisika, dan astronomi, membuat ...

Serigala Terakhir, Konflik untuk Pendewasaan Masyarakat

Kamis, 5 November 2009

News image

Di sebuah pinggiran Jakarta dengan sekelompok remaja laki-laki tumbuh dan menjalin persahabatan yang kuat. Mereka adalah Ale [Fathir Muchtar], Jarot [Vino G. Bastian], Lukman [Dion Wiyoko], Sadat [Ali Syakieb], dan ...

Film Epik Nabi Muhammad Akan Dibuat

Selasa, 3 November 2009

News image

DOHA - Sebuah film epik tentang Nabi Muhammad akan segera dibuat. Tak tanggung-tanggung, rencananya film yang ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada publik tentang arti sebenarnya Islam itu akan diproduseri oleh ...

Membedah Kisah Banjir Besar Zaman Nabi Nuh

Sabtu, 31 Oktober 2009

Peristiwa banjir besar itu diperkirakan terjadi sekitar 6.000 tahun yang lalu.Membaca kisah Nabi Nuh AS yang terdapat dalam Alquran, Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), ataupun buku-buku yang membahas seputar ...

Memberdayakan Pendidikan Seni Sunda

Rabu, 28 Oktober 2009

Oleh Djasepudin Rasa cinta dalam memelihara seni, sastra, dan budaya Sunda bisa diungkapkan dengan beragam cara. Untuk para seniman, tentu cara yang paling merenah adalah berkesinambungan dalam mencipta dan menampilkan ...

Emak Ingin Naik Haji

Rabu, 28 Oktober 2009

News image

Jika tak ada aral, November mendatang satu lagi karya film berbalut tema religi menyerbu bioskop. Film berjudul Emak Ingin Naik Haji ini nantinya akan menjadi film yang akan menambah semar...

Islam dalam Pandangan Barat

Selasa, 27 Oktober 2009

Nikolaos van Dam(Duta Besar Belanda untuk Indonesia)Banyak orang Barat belum pernah menapakkan kaki di negeri Arab atau dunia Islam, tetapi mereka mendapat kesan tentang Islam dan Muslim melalui media masa ...

Optimisme Generasi Muda

Selasa, 27 Oktober 2009

Oleh Azyumardi AzraHari-hari ini, seputar peringatan 81 tahun Sumpah Pemuda, banyak kalangan generasi lebih senior gelisah. Kegelisahan itu tecermin dari berbagai konvensi, seminar, dan diskusi yang kebetulan saya terlibat sebagai ...