Lolongseran Selebritis, Hiburan Segar Berbumbu Kritik Sosial PDF Cetak E-mail
Simpay Wargi Urang
Senin, 28 April 2008 07:45
JAKARTA - Kesenian tradisional di banyak daerah gaungnya jarang menasional, tak terkecuali teater rakyat Sunda, Jawa Barat, yang disebut lolongseran. Ada kekhawatiran yang mungkin tak beralasan bahwa puncak-puncak keemasan budaya daerah akan membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Padahal, puncak-puncak budaya daerah merupakan puncak keemasan budaya nasional. Demikian pandangan Ketua Umum Badan Musyawarah Tatar Sunda, Adang Daradjatun, dalam bincang-bincang dengan Kompas, Senin (28/4) di Jakarta.

"Kondisi ketertinggalan budaya daerah sedikit banyak dipengaruhi cara berpikir bahwa budaya tradisi hanya sebagai obyek untuk kepentingan pariwisata. Kalaupun itu benar, kenapa yang difokuskan dan dipromosikan terus-menerus hanya daerah tertentu, dan seolah-olah tak menganggap kesenian tradisi daerah lain sama pentingnya," katanya.

Selain itu, kesenian daerah tertinggal mungkin juga karena kurang dikelola dengan manajemen yang benar dan profesional atau tidak digarap dengan kreativitas sesuai kondisi kekinian, tak direvitalisasi dengan tetap berpedoman kepada pakem-pakem yang disepakati.

Adang melalui Simpay Wargi Urang, Minggu (27/4) malam, berhasil membuktikan bahwa kesenian tradisional, teater rakyat seperti lolongseran di Sunda, mampu menyedot perhatian banyak orang. Pertunjukan Lolongseran Selebritis dengan lakon Kalamurka Lantak, di Auditorium TVRI Jakarta, disesaki sekitar 300 penonton dan membuat mereka bertahan di tempat duduk atau berdiri selama lebih kurang dua setengah jam pementasan.

"Pertunjukan berhasil menyatukan tiga generasi masyarakat Sunda, dari generasi muda, menengah, sampai yang tua. Juga merekatkan kembali silaturahmi antarmasyarakat yang dipisahkan secara geografis namun menyatu dalam budaya Sunda, baik dari DKI Jakarta, Banten, maupun dari Jawa Barat sendiri," jelasnya.

Bahkan, para senimannya sendiri juga menyatu, berkolaborasi untuk mencitrakan bahwa kesenian tradisi itu bisa  menyesuaikan diri dengan zamannya. Lihatlah, bagaimana permainan musik Dwiki Dharmawan berkolaborasi dengan musik tradisi kempring reog. Bagaimana petikan harpa Maya Hasan mengalun indah dipadu gendang mengiringi sinden nembang dan juga penari meliuk-liuk indah.

Dialog-dialog para pelakon juga beragam dari yang serius hingga dibumbui humor cerdas, tapi menyentil. Sarat kritik sosial yang akrab dengan kehidupan masyarakat dewasa ini.

Wakil Gubernur Jawa Barat terpilih, Dede Yusuf, yang tampil jadi pangeran dalam lakon Kalamurka Lantak itu, ditemui seusai pertunjukan mengatakan bahwa kesenian daerah merupakan mata untaian kebudayaan nasional. Kekayaan kesenian daerah juga merupakan kekayaan budaya nasional. "Jika sudah dilantik sebagai Wakil Gubernur yang berpasangan dengan Gubernur Ahmad Heryawan, saya akan lebih menumbuhkembangkan kesenian daerah, dan memberi ruang kepada para seniman untuk berkreativitas. Dengan berkesenian, rakyat bisa menyatu dan berkomunikasi, bahkan juga memberikan kritik sosial," ungkap Dede, yang menurut rencana akan dilantik pada 13 Juni mendatang.

Kehilangan karakter
Pertunjukan Lolongseran Selebritis, Minggu malam di Auditorium TVRI, dengan lakon Kalamurka Lantak menceritakan kerajaan yang bernama Arga Wilis, yang ditimpa banyak bencana, dari banjir, gizi buruk, kelaparan, korupsi, antri minyak tanah, hingga antri minyak goreng.

Bencana menimpa rakyat kerajaan karena hilangnya jimat negara atau pusaka kerajaan. Agar terhindar dari bencana, sang Raja (diperankan Adang Daradjatun) menugaskan dua pangeran (Dede Yusuf dan Yana Julio) untuk mencari dan membawa kembali pusaka tersebut ke kerajaan Arga Wilis.

Akan tetapi, para pangeran harus menghadapi raksasa Kalamurka. Mereka bertarung. Raksasa kalah, menghilang, dan berubah menjadi pusaka kerajaan yang hilang. Akhirnya, kedua putra kerajaan bisa membawa kembali pusaka tersebut.

Selanjutnya kerajaan Arga Wilis terhindar dari bencana dan tetap aman sentosa. Menurut Adang Daradjatun, pusaka yang hilang itu adalah karakter bangsa. Krisis multidimensional, bencana yang datang silih berganti, dan korupsi yang semakin merajalela, pertanda kita kehilangan karakter bangsa. "Solusinya, kita harus ingat dan kembali ke pesan orangtua, harus saling asih, asah, dan asuh. Setidak-tidaknya, itu pesan dari lakon yang dimainkan Lolongseran Selebritis," tambahnya.
Sumber: Kompas

(tim adangdaradjatun.com)
AddThis
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Masukkan Kode Anti-Spam yang ada pada Gambar di Atas Pada Kolom Kosong Di Sampingnya

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Musisi Jazz Pukau Penonton Dalam JFWJ

JAKARTA ANTARA News - Sejumlah musisi jazz papan atas memukau penonton saat tampil dalam konser amal bertajuk "Jazz For West Java" (JFWJ) guna menggal...

Selasa, 15 September 2009

Foto Jazz for West Java

News image

Jazz for West Jabar telah usai semalam. Meski demikian, bentuk kepedulian terhadap musibah yang terjadi pada saudara se tanah air tak akan pernah suru...

Senin, 14 September 2009

Libatkan Musisi Jazz, Adang Cs Kumpulkan Sumbangan Rp. 262 Jutaan untuk Gem

News image

Jakarta - Banyak jalan menuju Roma. Mungkin kata ini yang menjadi dasar alasan utama digelarnya acara Jazz for West Java Charity Concert for Earthquak...

Senin, 14 September 2009

next
prev