Acara Donor Darah, "Mendadak Ceramah" di Masjid Al-Musyawarah PDF Cetak E-mail
PDDI
Sabtu, 25 Juli 2009 19:32

Jakarta - Sejatinya, Adang Daradjatun datang ke Masjid Al-Musyawarah di Jl Pinang Emas I Jakarta Selatan hanya untuk melakukan kegiatan donor darah yang biasa ia lakukan. Tapi, karena ketua dan para pengurus utama Yayasan Masjid yang mengadakan acara ini bersepakat meminta kesediaan untuk berbagi cerita, mantan wakapolri ini pun tak bisa menampiknya.

Keinginan para pengurus ini tiba-tiba saja terlontar untuk berbagi cerita tentang kebangsaan dari para pengurus. "Sebagai tokoh dan orang yang penting, apalagi ia sangat dikenal, pengalamannya akan sangat berharga jika mau di-sharing ke kita-kita," begitu tutur Mustafa, pengurus masjid Al-Musyawarah kepada redaksi.

Adang yang tak bisa menampik ajakan itu, langsung digiring ke tengah masjid dan duduk bersama. "Saya biasa tiba-tiba diminta untuk diajak ngobrol kayak begini kalau ada kegiatan donor darah di beberapa tempat," kata Adang yang disambut tawa peserta yang mulai duduk melingkar.

Tidak banyak yang ikut dalam diskusi ini, kecuali pengurus masjid dan dua ketua RT setempat yang tampak antusias dari awal ingin mengobrol dengan mantan calon gubernur DKI ini. "Saya dulu pemilih pak Adang. Cuma sayangnya ia tak kepilih saja," katanya kepada redaksi.

Soroti Pendidikan bagi Remaja
Adang yang kini menjadi calon terpilih anggota dewan legislatif dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini pun memilih berbagi pengalaman tentang kebangsaan dan kondisi politik ekonomi sosial dan budaya.

Sorotan yang paling tajam dari diskusi tersebut adalah pertanyaan dari salah satu pengurus tentang generasi muda yang seperti kurang roh ke-Indonesiaannya?

Apa jawabnya? Adang pun bercerita

"Dalam satu kesempatan bertemu dengan para guru, saya melantunkan lagu semasa kecil. "Oh Ibu dan Ayah Selamat Pagi, Ku Pergi Sekolah Sampai Kan nanti." Mendengar hal ini mereka pun bertanya, "Kok pak Adang masih inget lagu itu?"

Pertanyaan ini kemudian saya balik, kenapa anak muda sekarang tidak mampu menghafal lagu-lagu berbudi pekerti seperti itu? Justru di masa muda sekarang ini saatnya memberi mereka pengertian akan arti tata krama, sopan santun dan rasa keIndonesiaan, sehingga di masa nantinya ia akan memberikan contoh kepada generasi selanjutnya. Dan itu adalah tugas dari para guru," tutur Adang mengakhiri cerita.

Alhamdulillah, lanjut Adang, undang-undang saat ini telah mengamanatkan 20 persen anggarannya untuk pendidikan. Jika ini digunakan dengan sebaik-baiknya, Insya Allah kita tidak perlu lagi belajar ke negara tetangga untuk memperoleh gelar dokter, katanya.

Saat ini adalah kesempatan bagi presiden SBY yang terpilih untuk mengamanatkan pilihan rakyat dengan memilih orang-orang yang tepat dan amanah. "Tidak ada waktu lagi bagi bangsa ini karena 5 tahun mendatang negara ini akan melakukan regenerasi kepemimpinan," kata Adang.

Tak Jadi Donor Darah
Acara donor darah sendiri berlangsung di teras masjid dengan memanfaatkannya sebagai tempat pendaftaran. Sementara ruang perpustakaan digunakan untuk pelaksanaan kegiatan donoh darah.

Ada 4 tempat tidur yang difungsikan sebagai tempat pengambilan darah. Sementara di luar disediakan beberapa kursi untuk peserta yang menunggu panggilan untuk mendonorkan darahnya.

Tampak ada satu dokter yang mengecek darah, satu asisten yang melakukan transfusi dan beberapa panitia setempat.

Adang sendiri sampai di lokasi pukul 10.20 WIB. Tak seberapa lama setelah bercengkrama dan melihat-lihat pelaksanaan acara, ketua Perhimpunan Donor Darah ini pun langsung ke meja dokter setelah mendapat panggilan untuk donor darah. Belum sempat cek, sang dokter buru-buru mengonfirmasi usia Adang yang sudah 60 tahun.

"Katanya, kalau sudah seusia segitu jaraknya minimal 6 bulan. Padahal saya baru 4 bulan yang lalu donor darah. Jadi saya tidak diperbolehkan," tutur Adang yang tampak kecewa. Mendengar cerita ini warga yang hadir pun tertawa.

Meski tak jadi donor darah, Adang dengan setia menunggu para pendonor dan tampak mengobrol dengan mereka.

Kegiatan ini usai pukul 11.45. Dimulai dari pukul 08.30 WIB, panitia berhasil mengumpulkan 54 kantong darah. "11 lainnya tidak jadi dikarenakan kondisi pendonor tidak dalam kondisi fit, atau belum waktunya seperti pak Adang tadi," tutur Mustafa, Ketua pelaksana Donor Darah di Masjid al-Musyawarah.

"Sampai saat ini, kegiatan donor di masjid ini telah dilakukan rutin setiap 4 bulan dari semenjak 2007 lalu. Alhamdulillah acara bisa berjalan lancar semua sampai selesai." cerita Mustafa mengakhiri pembicaraan kami.

(tim adangdaradjatun.com)

 


AddThis
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Masukkan Kode Anti-Spam yang ada pada Gambar di Atas Pada Kolom Kosong Di Sampingnya

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Pendonor Darah di Jawa Barat akan Punya KDDE

BANDUNG, (PRLM).- Empat pengurus daerah PDDI (Perhimpunan Donor Darah Indonesia) yaitu Jabar, Jateng, Jatim dan Bali menjadi pilot proyek d...

Senin, 17 Januari 2011

Foto-foto Acara “Donor Darah Yuuuk..”

News image

Menyambut ulang tahun SMUN 6 ke 58 tahun, Yayasan Alumni SMU 6 (Yasma 6), Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI) bersama PMI Cab Kota Bekasi Mengada...

Sabtu, 17 Juli 2010

PMI DKI Usulkan Kenaikan Harga Darah

Untuk meningkatkan kualitas pelayanan, Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta mengusulkan kenaikan biaya pengambilan dan pemeriksaan darah di tahun ...

Kamis, 10 Desember 2009

next
prev