Dua Perunggu dan Olimpiade 2012 PDF Cetak E-mail
PABBSI
Senin, 25 Agustus 2008 00:18
Tim angkat besi Indonesia merampungkan tugas mereka di ajang Olimpiade Beijing 2008. Jumat lalu mereka pulang ke Jakarta dengan membawa dua medali perunggu. Hasil itu membuktikan angkat besi adalah cabang penting bagi Indonesia, jika ingin tetap masuk dalam daftar negara peraih medali di setiap olimpiade. Agar Indonesia bisa meraih hasil yang lebih baik lagi pada Olimpiade London 2012, persiapan cabang angkat besi sudah seharusnya digarap sejak sekarang.

Dua lifter peraih perunggu Olimpiade 2008, Eko Yuli Irawan (56 kilogram) dan Triyatno (62 kilogram), masih memiliki kans mendulang medali pada Olimpiade 2012 dan tetap menjadi andalan tim Indonesia. Memang, Olimpiade 2008 merupakan turnamen terakhir bagi Eko di kelas 56 kg. Setelah itu Eko akan naik ke kelas 62 kg. Adapun Triyatno, setelah Olimpiade 2008, tak akan lagi turun di kelas 62 kg karena naik ke kelas 69 kg.

Triyatno saat ini berusia 20 tahun dan Eko 19 tahun. Menurut pelatih angkat besi, Lukman, usia kedua lifter itu masih dalam periode pertumbuhan. Artinya, ukuran otot, tulang, dan daging di dalam tubuh Triyatno dan Eko masih akan bertambah.

Otomatis berat mereka dalam masa yang akan datang cenderung naik. Jika tetap berlaga di kelas mereka sekarang, Eko dan Triyatno harus melakukan diet sangat keras setiap menjelang pertandingan.

Menjelang Olimpiade 2008 kedua lifter itu sudah kepayahan melakukan diet agar berat mereka memenuhi syarat. Dalam satu hari, Eko dan Triyatno mungkin hanya minum satu gelas air dan sama sekali tak makan makanan bergaram.

Tujuannya satu, membuang air sebanyak mungkin dari tubuh sehingga berat badan bisa sesuai kelas yang diikuti. Diet yang terlampau keras bisa menyebabkan kebugaran anjlok. Triyatno kerap merasakan kram gara-gara diet terlalu ketat.

Lukman mengatakan, naik ke kelas 62 kg membuat Eko berpeluang meraih prestasi lebih baik ketimbang Olimpiade 2008. Ia mencontohkan, dalam Kejuaraan Asia, Mei 2008, Eko dengan bobot saat itu 60 kg mampu melakukan angkatan snatch 135 kg dan clean & jerk 170 kg.

Sebagai perbandingan, dalam laga kelas 62 kg Olimpiade Beijing 2008, peraih perak, Diego Salazar (Kolombia), juga melakukan total angkatan 305 kg (snatch 138 kg serta clean & jerk 167 kg). Berat Salazar saat itu tercatat 61,47 kg.

”Seandainya dengan berat badan 60 kg sekian, lebih kecil daripada bobot Salazar, mengikuti kelas 62 kg Olimpiade 2008, ia sudah dapat perak," ujar Lukman.

Sementara itu, Triyatno, dengan bobot 67 kg, pernah mampu melakukan angkatan snatch 140 kg dan angkatan clean & jerk 180 kg. Jika angka-angka itu dibandingkan dengan hasil laga kelas 69 kg Olimpiade Beijing 2008, Triyatno akan menempati urutan ketujuh. Namun, perlu diingat, angkatan itu dilakukan Triyatno dengan bobot badan sekitar 2 kg lebih ringan dari batas maksimal berat badan peserta kelas 69 kg.

Seandainya bobot Triyatno naik hingga sama dengan rata-rata bobot peserta kelas 69 kg Olimpiade Beijing 2008, sekitar 68,6 kg, angkatan Triyatno mungkin akan lebih baik lagi. Bukan tidak mungkin ia berada di deretan tiga besar.

Sekarang, semua hitung-hitungan itu dikesampingkan terlebih dahulu. Semua perhitungan peluang tersebut tidak ada artinya jika persiapan mengikuti Olimpiade London 2012 berlangsung seadanya. Pada Olimpiade 2008 ini lima lifter Indonesia hanya menjalani persiapan khusus selama enam bulan kurang. Periode waktu ini sangat tidak memadai untuk menggelar persiapan yang ideal.

Bukan itu saja, dalam satu tahun terakhir, turnamen internasional yang diikuti lifter Indonesia sangat minim. Eko dan Triyatno hanya mengikuti satu kejuaraan internasional, kejuaraan Asia, di samping PON 2008. Padahal, idealnya, untuk mempersiapkan diri mengikuti olimpiade, lifter seharusnya mengikuti tiga hingga empat turnamen internasional dalam satu tahun. Rajin mengikuti turnamen internasional memberi kesempatan bagi lifter mengasah teknik dan konsentrasi.

Jika ingin lifter Indonesia mendulang hasil yang lebih baik pada Olimpiade London, sudah seharusnya Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, KONI, serta Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PB Pabbsi) berpikir jangka panjang.

Sebelum Olimpiade 2008 dimulai, Ketua KONI Rita Subowo menyatakan, Indonesia akan mulai menjadikan olimpiade sebagai target utama sehingga persiapan jangka panjang sudah tersusun dari sekarang. Semoga pernyataan Rita Subowo betul-betul menjadi kenyataan, tidak sekadar basa-basi. (ato)

(tim adangdaradjatun.com/kompas)
AddThis
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Masukkan Kode Anti-Spam yang ada pada Gambar di Atas Pada Kolom Kosong Di Sampingnya

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Adang Daradjatun Enggan Beri Target ke Atletnya

News image

JAKARTA--MICOM: Ketua Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PB PABSI) Adang Daradjatun mengaku tidak m...

Jumat, 18 Februari 2011

Adang Daradjatun Resmi Pimpin PB PABBSI Lagi

News image

INILAH.COM, Jakarta - Ketua Umum KONI Pusat Rita Subowo optimistis Adang Daradjatun bisa mengemban tugas dengan baik, setelah diresmikan s...

Jumat, 18 Februari 2011

Adang Daradjatun Kembali Pimpin PB PABBSI

Jakarta, Kompas - Adang Daradjatun kembali terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indo...

Jumat, 21 Januari 2011

next
prev