Adang Daradjatun: Merindukan Blue Print DKI PDF Cetak E-mail
Kliping Berita
Kamis, 13 November 2008 10:46
VIVAnews - Meski gagal menjadi gubernur DKI Jakarta, Adang Daradjatun tetap concern terhadap masalah ibu kota. Mantan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia ini merindukan blue print pengelolaan DKI.

Dalam penilaiannya selama ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum memiliki blue print yang baik untuk menanggulangi berbagai problem Jakarta. 

Sebagai masyarakat, Adang meminta pemerintah DKI harus memiliki kemauan untuk membuat blue print. Kata dia, mantan gubernur DKI Jakarta (alm) Ali Sadikin memiliki blue print yang baik terkait pembangunan kota Jakarta. Dimana daerah resapan, daerah hijau dan daerah keras sudah tercatat dalam blue print tersebut. 

“Sekarang daerah resapan menjadi mal dan pertokoan. Padahal suatu kota sebagian besar harus memiliki daerah resapan dan daerah hijau. Kalau tidak ada blue print, maaf, Jakarta tidak akan maju,” ungkap calon anggota DPR nomor satu dari Partai Keadilan Sejahtera ini.

Ditemui VIVAnews di kediamannya di Jalan Cipete Raya Nomor 39C, Jakarta Selatan, mantan Wakapolri ini mengaku sibuk mengurusi berbagai organisasi. 

Adang terlahir di Bogor 13 Mei 1949 silam.  Karir Adang di kepolisian terbilang cepat. Namun hal itu didapatnya dengan usaha dan dedikasi tinggi. Setelah lulus Akabri (sekarang Akademi Kepolisian)  dia bekerja sebagai inspektur dinas tahun 1971-1975. Saat itu, Adang sangat ingin  mengubah citra polisi, khususnya bintara-bintara yang akrab dengan kekerasan dan kurang memiliki konsep pelayanan. 

Karirnya terus menanjak, pada tahun 1976 dirinya diangkat menjadi ajudan Menhankam/Pangab. Karir Adang dilanjutkan ketika menjadi Kapolsek Kebayoran Baru pada tahun 1978.

Pada tahun 2002 Adang menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Keamanan Polri dan puncak karirnya di kepolisian berakhir hingga menjadi Wakapolri pada tahun 2004.

Ketika menjabat Wakapolri, Adang mendapat tawaran menjadi calon gubernur DKI Jakarta dari Partai Keadilan Sejahtera pada tahun 2006. Saat itulah Adang meminta percepatan pensiun meninggalkan jabatan Wakapolri. 

Suami Nunun Nurbaeti ini akhirnya resmi meletakkan jabatan Wakapolri, pada November 2006 untuk maju sebagai sebagai cagub DKI. Kendati kalah dalam pertarungan Pilkada DKI Jakarta 2007 silam, Adang tak kecewa. 

Adang sudah menanamkan pedoman diri, kemenangan dan kekalahan adalah bagian dari kompetisi. Oleh sebab itu, dirinya tidak terlalu larut saat kekalahannya dalam Pilkada lalu. 

“Pernah ada yang katakan kepada saya, kemarin (pilkada) kalah, tidak protes atau marah pak Adang. Saya katakan, saya menghargai, dan menghormati orang. Karena ini tidak didapat secara ujug-ujug, tapi sudah dimulai sejak usia 7-18 tahun,” tutur Adang.

AddThis
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Masukkan Kode Anti-Spam yang ada pada Gambar di Atas Pada Kolom Kosong Di Sampingnya

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Seribu Sepeda Motor Antik Gelar Kontes

MALANG, KOMPAS.com - Sebanyak seribu lebih motor tua keluaran zaman kolonial Belanda gelar kontes di Kota Malang. Mayoritas motor tua yang dihad...

Sabtu, 23 April 2011

KPK, Polri, Kejaksaan Perlu Koordinasi Lebih Baik

News image

TEMPO Interaktif, Jakarta - Rapat kerja komisi hukum dengan Komisi Pembarantasan Korupsi, Kapolri dan Kejaksaan kembali berlanjut Kamis (19/11). Agend...

Rabu, 18 November 2009

Turnamen Golf Sumpah Pemuda, Minggu

News image

Jakarta – Alumni Boedoet Golf (ABG) kembali menggelar turnamen golf berskala nasional untuk menyemarakkan Hari Sumpah Pemuda ke-81 di Jagorawi Golf Co...

Minggu, 1 November 2009

next
prev