Idealisme Seorang Adang PDF Cetak E-mail
Kliping Berita
Rabu, 01 Agustus 2007 15:12

Adang Daradjatun, jenderal polisi yang murah senyum dan santun. Sikap itu sudah ditunjukkannya sejak menjadi Ajudan Menteri Hankam/Panglima ABRI tahun 1977 dengan pangkat kapten. Ia berpenampilan correct, ramah, santun, dan profesional.


"Pada saat itu saya berpikir suatu hari kelak Kapten Adang akan mencapai posisi tinggi di jajaran Polri,” ungkap Letjen TNI (Purn) Himawan Soetanto, seperti tertulis dalam buku Pengabdian Tanpa Henti, Siap Mengabdi untuk Bangsa, Adang Daradjatun yang ditulis Threes Emir dan Julius Pour.
Dua puluh tujuh tahun kemudian, tahun 2004, Adang Daradjatun menjabat Wakil Kepala Polri dengan pangkat Komisaris Jenderal.


Koleganya, Jenderal (Pol) Sutanto, menilai Adang sebagai sosok perwira Polri yang memiliki komitmen jelas, punya dedikasi dan loyalitas tinggi terhadap kepentingan institusi Polri sepanjang pengabdiannya. ”Inilah yang menjadikan Adang tetap eksis di lingkungan Polri ataupun di luar Polri. Adang teguh memegang prinsip dan disiplin tinggi, yang patut jadi teladan bagi generasi muda Polri,” ungkap Sutanto.


Kini Adang menjadi salah satu calon Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012. Diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Adang berpasangan dengan Dani Anwar, bertarung dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta. Mengapa Adang bersedia dicalonkan menjadi orang nomor satu di pemerintahan Provinsi DKI Jakarta?


Dalam percakapan dengan Kompas hari Minggu (1/7) di rumahnya di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Adang mengungkapkan alasannya. ”Sebetulnya ini alasan sentimental. Saya sudah 58 tahun hidup di Jakarta. Saya ingin berbuat lebih banyak lagi untuk bangsa ini,” kata Adang.


Awalnya, tahun 2006, Adang berjumpa dengan Dani Anwar (39), generasi muda yang penuh idealisme dari PKS. Selama satu tahun terakhir ini, Dani Anwar dan Triwisaksana (Ketua Umum Dewan Pimpinan Wilayah PKS DKI Jakarta) ”bergaul” dengan Adang. ”Kami sering bertemu dan ternyata memiliki kimiawi yang sama,” katanya.


Sepanjang hidupnya, Adang mengaku dia tak pernah lepas dari idealisme dan pembaruan. ”Kalau ada orang yang tak punya idealisme dan tak mau berubah, orang itu sudah lama mati. Hidup ini harus punya nilai tambah,” ungkap ayah dari tiga anak ini.


Selama 36 tahun pengabdiannya bertugas di Polri, Adang berproses sebagai pemimpin, mulai dari kepala kepolisian sektor, kepala kepolisian resor, kepala kepolisian daerah, sampai wakil kepala Polri. ”Kalau saya diizinkan dan dipilih masyarakat sebagai Gubernur DKI, lihat saya sebagai pemimpin, manajer yang mengelola Kota Jakarta,” ujar Adang.
Dia merencanakan memberi kewenangan penuh kepada wali kota di wilayah DKI Jakarta untuk mengatur daerah masing-masing. ”Kelak persaingan antar-wali kota sangat ketat untuk memajukan wilayah masing-masing,” kata Adang yang banyak meneriakkan slogan kampanye, ”Ayo Benahi Jakarta.”
Tidak akan ke arah ekstrem


Tampilnya Adang-Dani sebagai calon gubernur DKI Jakarta yang diusung PKS, partai pemenang pemilu di Jakarta, tak luput menimbulkan kekhawatiran dari sebagian masyarakat Jakarta mengenai ke mana Jakarta akan dibawa. ”Ada kampanye hitam yang menyebutkan, jangan pilih Adang sebab nanti tempat hiburan dan mal akan ditutup dan semua perempuan di Jakarta diwajibkan memakai jilbab. Saya tak akan membawa Jakarta ke arah ekstrem. NKRI dan Pancasila adalah harga mati,” katanya.


Adang menceritakan pernah bertemu dengan sejumlah pengusaha muda di Hotel Ritz-Carlton. Mereka meminta Adang tidak menjadikan Jakarta seperti Kota Tangerang. ”Saya balik bertanya, Wali Kota Tangerang berasal dari mana? Bukan dari PKS, kan? Saya lihat PKS ini anak-anak muda yang berpendidikan tinggi,” tuturnya.


Adang juga melihat saat ini pertarungan politik dalam pilkada sudah masuk dalam situasi kampanye hitam, menyudutkan dirinya dan PKS. Misalnya, anaknya dikabarkan pernah terlibat narkoba atau PKS akan meniadakan maulid dan tahlil. ”Saya melihat, dalam pertandingan, selalu ada yang menang dan yang kalah. Demikian juga dalam pilkada ini. Saya berharap masyarakat didewasakan untuk berpolitik,” ujarnya.


Menurut Adang, PKS memaklumi sikap Adang soal NKRI. ”Sejak bertugas sebagai perwira Polri, saya selalu mengingatkan banyak pihak bahwa NKRI dan Pancasila adalah harga mati. Jakarta adalah kota internasional, kota dengan keberagaman, kota tempat perwakilan luar negeri bermukim. Semua warga Jakarta harus maju, termasuk non-Muslim dan orang Tionghoa punya hak yang sama,” janji Adang. ”Kita tidak bisa melawan kebhinekaan itu,” kata Adang yang menegaskan koalisinya, koalisi dengan rakyat.


Kekayaan Adang senilai Rp 17,34 miliar tak luput mengundang pergunjingan dan pertanyaan. Namun, ia menegaskan, ”Itu rezeki keluarga. Kalau saya sih enggak punya apa-apa,” katanya. Istrinya, Nunun Nurbaiti, adalah seorang pengusaha. Dia juga mengaku tak punya mahar politik ke PKS. ”Kalau PKS mau buka rekening, silakan saja,” katanya lagi.


Tokoh reformasi Polri
Salah satu prestasi Adang saat mengabdi di jajaran Polri saat menjadi Ketua Tim Reformasi Polri adalah memisahkan Polri dari ABRI. Bersama Letjen TNI Agus Widjojo, Mayjen TNI Agus Wirahadikusumah (alm), Prof Satjipto Rahardjo, Prof Awaloedin Djamin, dan Prof JE Sahetapy, diterbitkanlah kajian bertajuk Reaktualisasi Kedudukan, Fungsi dan Peran Polri.
Adang lalu dibantu sejumlah perwira Polri membuat ”Buku Biru Polri” berjudul Reformasi Menuju Polri yang Profesional meski menghadapi banyak tantangan. Buku itu dibuat menjelang 1 Juli 1999 di Sespim Polri Lembang, Bandung. Yang paling mendasar dari buku itu adalah Polri harus segera mengubah paradigma di bidang instrumen, struktur, dan kultur.


Di mata ketiga anaknya, Adang sangat teguh dan disiplin. ”He is a wonderful father. Setiap saya butuh pendapat dan nasihatnya, papa selalu ada dan bisa menyelesaikan masalah,” kata Ratna Farida (27), anak ketiga Adang.
Adang dan istrinya berhasil mengantar anak-anak mereka menjadi anak- anak yang sukses. Adang juga ikut merancang pemisahan Polri dari ABRI dan tumbuh mandiri seperti saat ini. Akankah Adang Daradjatun, jika terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, juga berhasil mengelola Kota Jakarta? Waktulah yang akan menjawabnya!

 

 

R Adhi Kusumaputra dan Iwan Santosa

(Kompas Rabu, 01 Agustus 2007) 


 

 


AddThis
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Masukkan Kode Anti-Spam yang ada pada Gambar di Atas Pada Kolom Kosong Di Sampingnya

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Seribu Sepeda Motor Antik Gelar Kontes

MALANG, KOMPAS.com - Sebanyak seribu lebih motor tua keluaran zaman kolonial Belanda gelar kontes di Kota Malang. Mayoritas motor tua yang dihad...

Sabtu, 23 April 2011

KPK, Polri, Kejaksaan Perlu Koordinasi Lebih Baik

News image

TEMPO Interaktif, Jakarta - Rapat kerja komisi hukum dengan Komisi Pembarantasan Korupsi, Kapolri dan Kejaksaan kembali berlanjut Kamis (19/11). Agend...

Rabu, 18 November 2009

Turnamen Golf Sumpah Pemuda, Minggu

News image

Jakarta – Alumni Boedoet Golf (ABG) kembali menggelar turnamen golf berskala nasional untuk menyemarakkan Hari Sumpah Pemuda ke-81 di Jagorawi Golf Co...

Minggu, 1 November 2009

next
prev