Stigma Seharusnya Jadi Pelecut Semangat PDF Cetak E-mail
Kliping Berita
Selasa, 24 Februari 2009 10:18

BANDUNG - Stigma yang kerap muncul di kalangan masyarakat Sunda seharusnya menjadi semangat menuju pembangunan hidup lebih baik. Masyarakat Sunda harus membuktikan stigma itu tidak benar dengan tindakan nyata.

Demikian dikatakan A nggota Dewan Penasehat Badan Musyawarah Masyarakat Sunda (Bamus Sunda), Tjetje Hidayat Padmadinata dalam diskusi bertema Sosialisasi Bamus Tatar Sunda Jawa Barat di Grha Kompas Gramedia, Bandung, Selasa (24/2).

Menurut Tjetje, stigma individualis dan pemalas yang kerap muncul sebenarnya bukan hanya milik masyarakat Sunda. Banyak penelitian mengatakan, stigma itu sebenarnya lekat dalam diri keluarga besar masyarakat rumpun Melayu.

Tjetje berharap hal ini tidak menjadi beban. Munculnya anggapan buruk ini, seharusnya menjadi momentum baik bagi masyarakat Sunda membuat karya nyata yang lebih baik. Kuncinya dilakukan kebersamaan dan sesuai dengan keinginan masyarakat Sunda.

Bamus Sunda, menurut Tjetje, ingin berperan sebagai salah satu komponen pendukung kebersamaan masyarakat Sunda. Sebagai organisasi yang jauh dari kepentingan poltik praktis, Bamus Sunda berharap bisa berperan sebagai tempat berorganisasi dan memotivasi kemampuan masyarakat Sunda di berbagai bentuk kehidupan.

Akan tetapi, ia berharap Bamus Sunda di Jabar tidak sekedar romantisme belaka. Sebelumnya, banyak organisasi yang mengusung nama Sunda tidak langgeng karena belum memiliki rasa kebersamaan yang kuat. Diantaranya Badan Masyarakat Sunda (BMS) di awal tahun 1950-an atau Front Pemuda Sunda di awal tahun 1960-an.

Selanjutnya, tidak hanya berperan memajukan masyarakat sunda saat ini tapi juga bisa membentuk barisan muda sunda yang kreatif dan produktif di masa yang akan datang, katanya.

Hal yang sama dikatakan Ketua Umum Bamus Sunda, Adang Daradjatun. Menurut Adang, stigma yang melekat pada masyarakat S unda harus dihentikan. Alasannya, banyak hal yang tidak sesuai justru bertentangan dengan aktivitas masyarakat Sunda. Sinyal baik telah diperlihatkan masyarakat Sunda di berbagai bidang seperti pemerintahan, politik, pendidikan, dan organisasi kemasyarakatan .  

Yang memprihatinkan, stigma itu justru muncul dari kalangan orang Sunda. "Saya ingin hal itu dihentikan dengan meningkatkan berbagai tindakan dan perbuatan nyata yang positif," katanya.

Adang mengatakan, saat ini banyak hal di Jabar yang harus diselesaikan dengan keterlibatan seluruh komponen masyarakat. Diantaranya permasalahan infrstruktur jalan, bencana alam, kemiskinan, atau potensi wisata.

Untuk menuju ke arah itu, Adang mengingatkan agar niat membangun Sunda dijauhkan dari kepentingan politik praktis. Semangat yang diusung tetap bertumpu kesadaran kolektif masyarakat Sunda setelah melihat realitas kehidupan nasional.

(kompas.com) 


AddThis
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Masukkan Kode Anti-Spam yang ada pada Gambar di Atas Pada Kolom Kosong Di Sampingnya

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Seribu Sepeda Motor Antik Gelar Kontes

MALANG, KOMPAS.com - Sebanyak seribu lebih motor tua keluaran zaman kolonial Belanda gelar kontes di Kota Malang. Mayoritas motor tua yang dihad...

Sabtu, 23 April 2011

KPK, Polri, Kejaksaan Perlu Koordinasi Lebih Baik

News image

TEMPO Interaktif, Jakarta - Rapat kerja komisi hukum dengan Komisi Pembarantasan Korupsi, Kapolri dan Kejaksaan kembali berlanjut Kamis (19/11). Agend...

Rabu, 18 November 2009

Turnamen Golf Sumpah Pemuda, Minggu

News image

Jakarta – Alumni Boedoet Golf (ABG) kembali menggelar turnamen golf berskala nasional untuk menyemarakkan Hari Sumpah Pemuda ke-81 di Jagorawi Golf Co...

Minggu, 1 November 2009

next
prev